,
Tampilkan postingan dengan label Book Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Book Review. Tampilkan semua postingan
Kamis, 23 Maret 2023
Selasa, 03 November 2020
,
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Co-author: Saripuddin
Editor: Triana Rahmawati
Cover: Resoluzy
Layout: Alfian
Tahun Terbit: 2018
Cetakan I: April 2018
Tebal Buku: iv + 455 hal.; 13.5 x 20 cm
Rating: ⭐⭐⭐⭐
"Sebuah kisah tentang menemukan tujuan,
kemana hendak pergi,
melalui kenangan
demi kenangan masa lalu,
pertarungan hidup-mati,
untuk memutuskan
kemana langkah kaki
akan dibawa.
Pergi."
Buku ini adalah sequel dari novel Pulang. Jujur saja agak surprise waktu tahu buku Pulang ada sequelnya, karena sebenarnya bukunya menurutku udah tamat. Eh ternyata ada. Senang, sekaligus penasaran. Buku kedua ini masih menggunakan Bujang, Si Babi Hutan sebagai tokoh utamanya. Setelah Tauke Besar meninggal, Bujang naik posisi menjadi Tauke Besar yang baru milik keluarga Tong. Lewat kecerdasan yang dimilikinya, secara perlahan Bujang mulai membut terobosan-terobisan canggih dalam pergerakan keluarga Tong sebagai salah satu penguasa shadow economy. Akan tetapi, setelah sebelumnya dikhianati Basyir, pada seri kedua ini Bujang harus berhadapan dengan Master Dragon.
Master Dragon adalah salah satu penguasa shadow economy yang bermarkas di Hong Kong. Selain Master Dragon, terdapat jugs keliarga El Pacho di Meksiko, Keluarga Yamaguchi di Jepang, keluarga Lin di Maccau dan keluarga Bratva di Rusia. Dari beberapa keluarga ini yang paling disorot adalah keluarga Lin yang dalam buku sebelumnya sudah pernah berhadapan dengan keluarga Tong, keluarga Yamaguchi dan Bratva yang kemudin menjalin aliansi dengan keluarga Tong, juga keluarga Master Dragon sendiri, sementara, keluarga El Pacho tidak terlalu mencolok.
Seperti pada buku pertama, buku ini menawarkan petualangan yang menegangkan. Kalau diibaratkan film seperti cerita mafia yang dibintangi Jackie Chan atau Jet Li. Ceritanya seru, diselipkan pengetahuan-pengetahuan sejarah tentang masa lalu, yang membuat saya semakin ingin membaca tentang shadow economy. Benarkah mereka benar-benar ada?
Namun, meski memiliki alur dan cerita yang penuh adegan action, buku ini sebenarnya menitikberatkan pada tujuan hidup tokoh utama. Tujuan ia mempertahankan keluarga Tong demikian kerasnya, dan akan ia bawa kemana apa yang telah ia capai dan pertahankan itu. Pada salah satu bab yang menceritakan kisah dua orang petani yang dituturkan oleh Salonga, buku ini mengajak pembaca melihat ke dalam hati, apa yang ingin kita tuju dan capai dalam menjalani hidup ini. Jika mengejar harta manusia tidak akan pernah puas, mengejar jabatan pun sama.
Secara keseluruhan ceritanya saya suka, banyak pelajaran dan bahan renungan yang dapat kita petik dari buku ini. Di luar ide perjodohan keluarga Bratva, Maria dan Agam. Saya kurang suka idenya, Maria tampil sebagai sosok wanita yang keras dan terlalu ambisius, sepertinya tidak cocok dengan Agam 😁
Selanjutnya, kemunculan Diego Samad. Di awal buku, saya menyangka laki-laki itu akan tampil sebagai lawan duet mematikan di akhir perjalanan cerita. Ternyata tidak, hal yang membuat buku ini membutuhkan buku ketiga. Ending ceritanya yang gantung, hampir tidak ada yang selesai dari perkara pergi ini kecuali urusan dengan Master Dragon. Perjodohan Agam dan Maria sebenarnya tidak akan berpengaruh banyak dalam cerita menurut saya, tapi tetap saya penasaran siapa yang akan menjadi pasangan Agam nanti. Ide ia bertunangan dengan Maria secara otomatis setelah ia menerima gelang pemberian gadis tersebut sangat tidak bagus buat saya. Nggak setuju lah. Terakhir, Agam memang tahu kemana ia akan pergi. Ia sudah tahu. Tapi pembaca seperti saya ini belum tahu. Jadinya harus ada buku ketiga untuk melengkapi ketidaktahuan saya ini.
Sabtu, 24 Oktober 2020
,
Penulis: Almira Bastari
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Editor: Claudia Von Nasution
Tahun Terbit: 2020
Cetakan Ketiga: Maret 2020
Tebal Buku: 344 hlmn.; 20 cm
ISBN: 9786020638010
Gimana rasanya diputusin setelah berpacaran selama tiga belas tahun?
Hidup Gala yang mendadak jomblo semakin runyam ketika adiknya kebelet nikah! Gala bertekad pantang lajang menjelang umur kepala tiga. Bersama ketiga sahabatnya, Nando, Sydney, dan Detira, strategi pencarian jodoh pun disusun. Darat, udara, bahkan laut "disisir" demi menemukan pria idaman.
Akankah Gala berhasil menemukan pasangan untuk menggenapi hari-hari ganjilnya?
****
Sebagai orang yang tidak tinggal di Jakarta, Ganjil Genap termasuk materi yang baru bagi saya. Beruntung daerah tempat saya tinggal tidak semacet Jakarta, walaupun memang pada jam-jam tertentu macet juga. Dulu, setiap kali nonton berita yang membahas tentang penerapan ganjil genap, saya pikir itu patokannya jumlah penumpang di dalam mobil. Kalau hari ganjil harus ganjil jumlahnya, kalau genap harus genap juga penumpangnya. Kan tujuannya mengurangi kemacetan, jadi mikirnya buat yang punya kendaraan roda empat dan tidak ada teman untuk naik mobil bareng, jadi nebeng temen. Akhirnya berkurang jumlah mobil yang beredar di jalanan. Ternnyata bukan begitu, patokannya di plat nomor haha
Saya termasuk penggemar novel metropop dan Almira Bastari masuk dalam jejeran penulis metropop yang saya sukai. Dua bukunya yang berjudul Resign dan Melbourne Wedding Marathon sudah saya baca dan sukses jatuh cinta. Di buku Ganjil Genap, saya juga berhasil dibuat baper dan sering cengengesan. Buku ini bercerita tentang Gala, wanita di akhir usia 20-an yang cantik, mapan, otomatis banyak pria yang naksir namun sayangnya terjebak dalam hubungan selama tiga belas tahun dengan seorang pria bernama Bara. Mereka kenal sejak SMA, dan pacaran sejak itu pula. Hal yang tidak wajar kenapa bisa pacaran selama itu namun nggak kunjung menikah, tapi mengingat Titi Kamal dan Christian Sugiono pun pacarannya sekitar sembilan tahun, anggap saja itu wajar. Namun pasangan artis ini berakhir di pelaminan. Sementara Gala bisa dibilang sial, durasi pacarannya dengan bara yang kalau dipakai untuk kredit perumahan sudah bisa lunas itu harus berakhir dengan kalimat putus di parkiran dari Bara dengan alasan "kamu terlalu baik buat aku". Alasan yang nggak logis, karena sejak kapan sih orang kalau pacaran maunya dijahatin. Pasti semua maunya dapat pasangan yang baik, kan? Kecuali kalau ada orang lain yang dianggap lebih baik. Alasan sudah nggak cocok? Masa iya tidak cocok sementara pacaran sudah tiga belas tahun!? sandal jepit saja kalau tertukar dengan milik orang yang punya motif sama pasti kita ngerasa. Kecuali kalau ada orang lain yang dirasa lebih cocok.
Namun, Gala sama sekali tidak berniat untuk mengorek apakah memang ada orang lain di antara dia dan Bara yang selama ini disembunyikan. Ia hanya ingin tahu alasan Bara memutuskannya, alasan logis yang bisa diterima akal sehatnya, namun sayang jawaban Bara tetap sama: jawaban pengecut "aku nggak mau nyakitin kamu." Padahal dengan diputuskan saja sudah menyakiti. Karena itu, demi menyelamatkan harga dirinya, Gala bertekad untuk harus cepat move on dan dapat gandengan baru. Sekalipun kalau memang Bara sudah ada yang lain, yang penting harus dia yang lebih dulu menikah dibanding Bara. Apalagi sebentar lagi umurnya 30 tahun! Adiknya Gisha juga sudah kebelet nikah! Masa dia dilangkahi? Berapa banyak pertanyaan kapan nikah yang akan ia terima nanti? Bagaimana perasaaan orangtuanya kalau tahu dia dan Bara putus setelah sekian tahun pacaran?!
Pertama, bukunya saya suka. Kedua, ceritanya seru. Ketiga, hal-hal yang dialami Gala memberikan bahan renungan tersendiri untuk saya. Dibanding petualangan cinta, buku ini menurut saya lebih ke nasehat terhadap pasangan-pasangan yang mungkin sudah pacaran lama namun belum menikah, juga ke perempuan-perempuan yang siapa tahu saat ini sedang diberondong pertanyaan kapan nikah dari berbagai penjuru. Di Indonesia, sudah jadi rahasia umum kalau wanita yang belum menikah di atas 30 tahun dianggap 'aib'. Setiap yang ketemu jangankan teman, dari keluarga sendiri pun banyak yang suka melontarkan pertanyaan maut kapan nikah. Tapi buku ini memberikan pencerahan. Nikah nggak perlu diburu, nggak harus terburu-burum nggak boleh hanya karena dikejar umur (walaupun mungkin untuk perempuan ada resiko lain jika terlambat menikah), tapi tetap menikah harus lebih pada kesiapan. Begitu juga kalau putus, nggak perlu terburu-buru cari pengganti kalau memang belum waktunya ada yang cocok. Tidak harus memaksakan keadaan jika memang sejak awal sudah tidak satu visi.
Buku ini termasuk salah satu buku jenis buku yang bikin emosi, terutama ke Bara, Aiman dan kayaknya hampir semua karakter laki-laki yang ada kecuali Nandi dan Anantha dan Pangeran Ibra. Untuk mereka, itu pengecualian. Sisanya, laki-lakinya menyebalkan. Di satu sisi bisa bikin pemaca senyum-senyum sendiri, di sisi lain bikin saya jengkel mangkel setengah mati. Kok ada laki-laki begini? Tapi walau begitu, karena 'keanehan' para lelaki dalam buku ini, saya jadi dapat teori baru tentang menghadapi laki-laki haha. Pun jadi merenungi laki-laki yang pernah mampir di hidup saya.
Terakhir, bukunya saya rekomendasikan
Terakhir, bukunya saya rekomendasikan
Rabu, 21 Oktober 2020
,
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
"Apalah arti memiliki? Ketika diri kamu sendiri bukanlah milik kami?
Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?
Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja."
Buku ini adalah buku yang mengajak kita untuk merenung dan belajar. Berlatar tahun 1938, Tere Liye membuat kita belajar dari penggalan-penggalan kisah hidup di masa lalu yang hingga masa perjalanan haji di tahun 1938 bersama kapal Blitar Holland masih menggantung, menghantui dan menjadi pertanyaan beberapa tokoh yang berperan dalam buku ini. Kisah pertama datang dari Bonda Upe. Masa lalu kelam Bonda Upe yang kerap membuatnya tidak percaya diri dalam menjalani hari-hari dan menanti masa depannya. Kisah ini mengajak kita untuk berdamai dengan kenyataan, dengan masa lalu yang meskipun menyakitkan atau memalukan untuk dikenang, ia adalah bagian dari diri kita yang tidak boleh kita tepiskan. Kita tidak perlu memerdulikan pendapat orang tentang masa lalu kita, yang kita jalani adalah saat ini. Biarlah masa lalu menjadi bagian perjalanan hidup untuk dijadikan pelajaran.
Selanjutnya, kisah masa lalu yang datang dari Daeng Andipati. Daeng Andipati adalah seorang pengusaha sukses di zamannya yang masih menyimpan dendam dan kemarahan pada seseorang yang semestinya ia cintai dan doakan. Kesuksesan karier dan kehidupan keluarga tidak mampu mengenyahkan perasaan kecewa dan marah di masa lalu. Perasaan yang hingga kapal Blitar Holland bergerak meninggalkan Pelabuhan Makassar pun tak dapat ia tanggalkan. Ternyata kunci dari semuanya adalah ikhlas dan menerima, merengkuh masa lalu dan kekecewaan itu sebagai bagian dari perjalanan hidup yang membawanya pada kesuksesan hari ini.
Kisah ketiga datang dari Mbah Kakung dan Mbah Putri. Pasangan sepuh yang masih mesra dan seolah berjanji sehidup semati, bersama-sama melakukan perjalanan haji di usia senjanya, namun harus menelan pahitnya takdir terpisah di tengah perjalanan laut menuju Mekkah. Mbah Putri meninggal di atas kapal Blitar Holland dan untuk mengikuti prosedur keamanan dan kenyamanan di dalam kapal, jenazahnya harus dilemparkan ke laut. Tak terbayang penyesalan bercampur perasaan tidak mampu menerima, perasaan tidak adil yang dirasakan Mbah Kakung. Kenapa harus saat ini? Kenapa harus di atas laut? Kenapa tidak menunggu saat mereka tiba di tanah suci? Sedikit lagi waktu yang diperlukan untuk sampai di Mekkah? Namun, dari kisah ini, kita diajak untuk percaya pada ketetapan Allah SWT, pilihan Tuhan, meyakini bahwa apa yang diberikan sudahlah yang terbaik untuk diri kita asal kita tidak berhenti percaya kepadaNya.
Berikutnya, cerita cinta yang datang dari Ambo Uleng. Seorang pelaut tangguh yang ternyata hampir tak mampu melawan badai cinta yang datang. Kisah cintanya dengan gadis yang telah lama dicintainya harus kandas karena perbedaan strata. Ambo Uleng dianggap tidak sederajat dengan sang gadis, keluarga si gadis tidak bisa membatalkan perjodohan dengan cucu salah satu ulama termahsyur di tanah Makassar pada saat itu. Ambo Uleng galau, Ambo Uleng patah hati, lantas lari ikut kapal Blitar Holland sebagai kelasi. Tapi ternyata, meski telah lari meewati samudera, ia tetap tidak bisa meninggalkan rasa cintanya. Perasaan itu tetap ikut dan terasa sakit apalagi saat melihat kemesraan Mbah Kakung dan Mbah Putri. Ia dendam, namun di akhir cerita akhirnya ia menemukan kejutan yang terbaik yang tak pernah ia duga.
Lalu terakhir, pertanyaan terakhir justru datang dari orang yang paling disegani di seluruh kapal Blitar Holland. Ialah Ahmad Karaeng, pria yang di usia senjanya masih menyuarakan perlawanan dan kemerdekaan terhadap Belanda lewat tulisan-tulisannya. Pria yang jadi tempat orang-orang bertanya, justru memiliki pertanyaan yang ia sendiri tak bisa menemukan jawabannya.
Dari sisi penceritaan, menurut saya Tere Liye adalah salah satu penulis yang masuk dalam jejeran penulis berbakat dan terkenal. Saya kagum dengan kemampuannya meramu cerita dengan latar yang terbatas menjadi cerita dengan kualitas yang istimewa. Walaupun sejujurnya, karakter favorit saya adalah Ambo Uleng sehingga saya mengharapkan banyak adegan yang melibatkan karakter satu ini. Bisa dibilang Ambo Uleng adalah salah satu 'juru kunci' dari cerita ini. Selain itu, saya dibuat sedikit penasaran dengan pertanyaan Ruben si boatswain, tentang apa sesungguhnya kebahagiann itu? Buku ini memberikan jawabannya, tidak secara gamblang dan terang-terangan tapi melalui perjalanan kisah pertanyaan besar empat orang dalam buku ini, namun selain Ambo Uleng, Ruben juga menjadi salah satu karakter favorit saya dan sejujurnya saya menantikan perannya yang mungkin akan meninggalkan pesan mendalam selain dari lontaran pertanyaannya. Tapi, meski begitu, hal-hal ini tidak mengurangi keistimewaan buku ini. Buat yang lagi Rindu, atau mungkin sedang ada pertanyaan belum terjawab, saya rasa buku ini bisa memberikan sedikit petunjuk.
Kamis, 19 Maret 2020
,
![]() |
| Sumber Foto |
Judul Buku: Melbourne Wedding Marathon
Penulis: Almira Bastari
Penerbit: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia
Editor: Cicilia Prima
Desain Kover: Dyndha Hanjani P
Penata Isi: Putri Widia Novita
Cetakan Pertama: Juli 2017
ISBN: 978-602-452-111-0
EISBN: 978-602-05-00294
Sydney Deyanira
Wanita cerdas, mandiri, ambisius, dan perfeksionis. Sydney merasa patah hati ketika sahabat yang ia kencani selama satu semester terakhir memilih berpacaran dengan orang lain. Dijuluki sebagai ahli percintaan prematur, Sydney mulai berpikir untuk melakukan apa yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya, menjalin hubungan palsu dengan orang baru.
Anantha Daniswara
Pria sukses, arogan, suka bergonta-ganti pasangan namun masih belum berdamai dengan masa lalunya. Demi memenuhi tantangan mantan pacarnya, Anantha nekat meminta pelayannya sendiri untuk menjadi kekasihnya.
Melbourne bukan kota cinta dan jauh dari kata romantis. Sebagai kota yang paling nyaman ditinggali di dunia, Melbourne menjadi awal baru bagi dua insan yang tertekan dengan rentetan pesta pernikahan!
****
Sydney adalah seorang wanita cerdas yang sayangnya selalu sial dalam hal percintaan. Mulai dari laki-laki yang mundur karena merasa Sydney 'terlalu tinggi' bagi mereka, hingga sahabat yang awalnya meminta hubungan lebih tapi kemudian berpacaran dengan orang lain. Sementara Anantha, ia adalah seorang pengusaha muda yang karena patah hati ditinggal menikah oleh kekasihnya, Danisha, berubah menjadi playboy yang suka gonta-ganti pasangan. Tapi, tuntutan kondangan semakin hari semakin meningkat. Agenda yang sejatinya menjadi hari untuk merayakan cinta dua orang insan dan memberi doa bagi mereka, justru seperti menjadi ajang untuk saling berebut siapa duluan yang paling cepat bertanya "kapan nikah?". Alhasil, Anantha jadi malas menghadirinya.
Namun, kemunculan Dansiha secara tiba-tiba yang menantangnya untuk datang ke pesta pernikahan teman-teman mereka sebagai bukti bahwa Anantha sudah move on dan tidak punya lagi perasaan padanya, membuat Anantha berusaha memenuhi tantangan itu. Ia malas masih dikaitkan dengan Danisha yang sudah menjadi istri orang, tapi juga tidak mau ke kondangan sendirian. Jadi, ia nekat meminta pelayannya yang notabene adalah Sydney untuk menemaninya, juga berpura-pura menjadi pasangannya. Sydney, yang patah hati dan sudah lelah menjomblo selama 24 tahun, pun menerima tawaran tersebut. Setidaknya, walau pura-pura, ia bisa merasakan punya pacar dan diperhatikan itu seperti apa. Meskipun itu cuma sementara....
****
Buku ini mengusung tema yang sudah umum dalam setiap buku bertema percintaan. Pura-pura pacaran, pacaran kontrak dan sebagainya yang mirip. Tapi, disini, yang menjadi alasan bukan karena menolak perjodohan, tapi demi menghadiri kondangan. Anantha butuh wanita untuk menemaninya ke pesta pernikahan, jadilah Sydney yang menemaninya.
Buku ini lucu, romantis dengan caranya (walaupun dalam hal karakter Anantha bukan pria yang romantis), seru, lucu, kadang bikin emosi apalagi kalau sudah berkaitan dengan Rafka dan mulutnya yang nggak punya rem kalau men-judge orang, dan juga enteng. Mengapa enteng? Pembaca tidak digiring pada konflik yang rumit, buku ini hanya bercerita tentang perjalanan cinta Sydney dan juga Anantha. Tapi, perjalanan yang seru dan menyenangkan.
Tidak terlalu banyak kejutan, bahkan hampir tidak ada, secara garis besar sebelum perpisahan Sydeny dan Anantha, alurnya lumayan tertebak. Bab-bab solution-nya nggak terduga akan sesantuy itu, tidak drama, dan selow selow aja. Tapi, ceritanya tetap asik dan seru untuk dinikmati. Bukunya juga page turner, cocok untuk menemani di waktu senggang atau selepas pulang kerja. Bisa jadi bacaan hiburan yang menarik. Walaupun memang pada beberapa bagian, beberapa kesalahan penulisan ditemukan, kadang jadi kayak ketuker dan bingung ini yang ngomong siapa, ini maksudnya apa. But, that's ok, agak mengganggu, tapi tidak membuat kita jadi ingin berhenti membacanya.
Selasa, 17 Maret 2020
,
![]() |
| Sumber Foto: Koleksi Pribadi |
Judul Buku: A List of
Cages
Penulis: Robin Roe
Penerbit: Penerbit
Spring
Tahun Terbit: 2017
Penerjemah: Yudith
Listiandri
Penyunting: RoseMia
Penyelaras Akasara:
Mery Riansyah
Ilustrasi dan Sampul:
Junweise
Penata Sampul:
@teguhra
Cetakan Pertama:
Januari 2018
Tebal Buku: 372 hlmn;
20 cm
ISBN:
978-602-6682-12-3
Adam begitu gembira
bisa bertemu lagi dengan Julian saat bekerja sebagai pendamping psikolog
sekolah. Meskipun duduk diam bukanlah hal yang mudah bagi ADHD-nya, tapi Adam
tidak bisa mengeluh.
Awalnya, Julian
adalah anak yang seperti yang Adam kenal lima tahun lalu. Julian masih anak
yang ramah, masih suka menulis cerita, dan menyukai buku cerita bergambar untuk
anak-anak. Namun kemudian, Adam menyadari Julian menyembunyikan sesuatu.
Hanya saja, meskipun
Adam berniat untuk membantu, rahasia itu bisa saja membuat mereka kehilangan
nyawa….
****
Sebelum mengenal Adam, Julian
adalah anak yang bahagia. Keterbatasan yang dimilikinya tak pernah sedikit pun
menyurutkan kasih sayang kedua orangtuanya. Ayah Julian sangat sayang dan suka
menepuk-nepuk kepalanya sebelum tidur, Ibu Julian adalah seorang penyanyi
dengan suara paling indah bagi Julian. Namun, kepergian keduanya yang begitu
mendadak membuat Julian terpukul. Ia tidak menyangka, dua orang yang begitu
menyayanginya bisa meninggalkannya, tanpa siapa-siapa. Hidup Julian berubah drastis.
Ia jadi pendiam dan tidak bergairah melakukan hal apapun termasuk hal yang ia
sukai.
Beruntung, kehadiran Adam dan
Ibunya yang baik hati kembali menghidupkan
Julian. Meski masih dengan rindu dan luka menganga setelah kehilangan,
secara perlahan Julian kembali menemukan dunianya. Perlahan ia kembali ceria,
dan mulai kembali menulis buku cerita. Adam berperan sebagai kakak laki-laki
yang amat penyanyang, Ibu Adam adalah ibu angkat yang begitu perhatian. Namun
malang, seolah tak habis penderitaan karena kematian orangtuanya, keluarga baru
Julian kembali direnggut dari hidupnya. Kemunculan Russel yang mengaku sebagai
paman Julian, sekaligus sebagai orang yang paling berhak mengasuhnya telah
mengubah segalanya. Russel membawa Julian pergi dari rumah Adam, mengurungnya
di sebuah rumah besar mewah hampir tak berpenghuni dengan sederet peraturan
tidak normal juga perlakuan tidak normal lainnya.
Julian harus kembali melalui hari
penuh mimpi buruk. Mimpi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Cambukan,
makian, dan siksaan demi siksaan harus ia pendam demi mempertahankan hidupnya.
Julian kembali menjadi anak yang tidak bersemangat, sulit mengikuti pelajaran,
kesulitan dalam memahami banyak hal, termasuk dirinya sendiri. Julian kehilangan
dirinya.
****
Sejak BAB pertama, sebagai
pembaca, saya sudah menduga bahwa buku ini akan mengarahkan kita kepada isu parenting, yang sudah banyak
diperbincangkan dalam buku lainnya, pun dalam beberapa contoh kasus yang
melibatkan anak di bawah umur di berbagai media. Hanya saja, ternyata, menonton
berita yang sepintas dikabarkan televisi, atau mendengarkan cerita yang beredar
di antara orang-orang, tidak sama dengan membaca dan membayangkannya.
Karena, selain sisi parenting, buku ini juga memuat cerita
tentang bagaimana kondisi lingkungan, pola asuh, dan kondisi psikologis seorang
anak dapat mempengaruhi hidup dan pertumbuhannya. Julian diceritakan sebagai
sosok yang memiliki kekurangan dalam sisi akademik dibandingkan anak normal
pada umumnya, yang diperparah dengan kesalahan pola asuh, yang berakibat pada
Julian yang tidak mengenali dirinya, dan tidak menganggap berarti dirinya
sendiri. Orang-orang yang normal adalah hal asing baginya. Bercanda dengan
teman sebaya, merupakan hal aneh. Memahami pelajaran yang seharusnya mudah
menjadi hal tersulit untuk ia lakukan.
Selain pola asuh, unsur
kekerasan, yang juga diikuti oleh kekerasan seksual yang dialaminya membuat ia
berubah menjadi sosok anak yang secara fisik pertumbuhannya abnormal, secara
psikologis pun demikian.
Buku ini menjadi semacam warning bagi para pembaca, khususnya
orangtua/wali agar senantiasa memperhatikan hal sekecil apapun perubahan yang
terjadi pada anak-anak atau lingkungan sekitarnya. Ketika ada anak usia remaja
pada umumnya senang ber-selfie ria, mulai
merasakan cinta monyet pada kakak kelasnya, suka jalan-jalan mencari tempat
yang bagus untuk update feed di Instagram,
menekuri hobi seperti membaca buku atau berolahraga, dan ada anak lain yang
tidak suka melakukan hal-hal di atas, lebih nyaman jika berjalan sendirian,
tidak suka ada di kerumunan, kesulitan menemukan teman kelompok belajar di
kelasnya – bukan berarti ia mengalami masalah pertumbuhan atau masalah
psikologis, tapi bukan berarti juga semuanya baik-baik saja. Perlu ada
perhatian lebih, perlu ada pendekatan berbeda, agar kita bisa benar-benar
menemukan dan memastikan bahwa segalanya betul-betul baik-baik saja seperti
kelihatannya.
Rabu, 26 Desember 2018
,
Penulis: Fiersa Besari
Penerbit: mediakita
Penyunting: Juliagar R. N.
Penyunting Akhir: Agus Wahadayo
Desainer Cover: Budi Setiawan
Lettering: @deanurrizkir
Penata Letak: Didit Sasono
Kategori: Novel Fiksi
Cetakan Pertama: 2017
Cetakan Keempat: 2018
Tebal Buku: iv + 306 hlmn.; 13x19 cm
ISBN: 978-979-794-549-7
Rating: 5 Bintang
Seseorang yangakan menemani setiaplangkahmu dengansatu kebaikan kecilsetiap harinya.tertanda,Juang
****
Kasuarina atau yang akrab disapa Suar adalah seorang wanita cerdas yang bercita-cita menjadi sineas. Sebagai mantan mahasiswi jurusan DKV, Suar bisa dibilang amat berbakat dalam bidang yang tak hanya menjadi hobi, tapi juga merupakan cita-citanya sejak kecil. Sayang, realitas membuatnya harus mengubur impiannya dalam-dalam dan terjebak menjadi staff asuransi di salah satu bank. Sebenarnya, tidak ada masalah dengan pekerjaan itu. Suar tergolong karyawan teladan dan amat disukai bosnya karena selalu bisa closing melebihi target yang sudah ditentukan. Hanya saja, suatu kejadian mengubah semuanya. Suar jadi jenuh, malas dengan kantor dan pekerjaannya, sering kena marah bos.
Suatu hari, di perjalanan menuju kantornya, Suar tidak sengaja menemukan sebuah buku bersampul merah. Buku yang sepertinya diari itu terjatuh di angkot yang ditumpangi Suar. Awalnya, Suar berniat membaca buku itu demi menemukan pemiliknya agar bisa mengembalikannya. Tapi ternyata, buku tersebut justru membawa perubahan dalam hidupnya. Buku ini membuatnya mengambil keputusan untuk melangkah
****
Buku ini masih memuat kisah tentang Juang, lelaki yang menjadi tokoh utama dalam buku Konspirasi Alam Semesta yang saya review sebelumnya. Walaupun bukan dalam bentuk fisik, tapi dalam bentuk tulisan dalam jurnalnya, Juang menjadi tokoh dalam bayangan yang begitu hidup, terutama bagi Suar. Terdiri dari empat bagian, buku ini menggambarkan perkembangan karakter Suar serta perubahan-perubahan yang berani ia tempuh dalam hidup setelah membaca buku catatan bersampul merah milik Juang.
Bagian pertama, menceritakan kisah Suar yang lelah dengan pekerjaannya. Berkat buku catatan bersampul merah, Suar berani melangkah. Idealisme, imipian, kisah-kisah di masa kecil yang menggugah, tujuan hidup, bahkan cinta yang Juang tuangkan lewat tulisannya membuat Suar berani untuk menatap masa depan dengan lebih positif, berani untuk kembali melihat cita-cita dan impiannya dan mengejarnya.
Bagian kedua, seperti pada buku Konspirasi Alam Semesta, Juang tidak hanya mengajak Suar untuk mulai maju, melangkah untuk memperbaiki hidupnya, tapi juga untuk lebih memerhatika sekitar. Suar, juga saya selaku pembaca, diajak untuk merenungi fenomena dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di bumi Indonesia. Isu nasionalsime diangkat, kepedulian sosial diuji.
Pada bagian ketiga, Suar diuji dengan kegagalan setelah ia berani mengejar impian. Tapi, lagi-lagi, catatan milik Juang membuatnya tidak berkecil hati, bangkit dan melangkah lagi, dengan perhatian terhadap alam sekitar. Ego manusia yang benci dengan kegagalan dan penolakan baik itu dalam hal impian dan cinta seperti diberi pencerahan bahwa itu adalah bagian dalam hidup yang tidak seharusnya dikenang dengan cara yang menyakitkan, tapi untuk dijadikan pelajaran agar menjadi manusia yang lebih baik lagi di masa depan.
Sementara di bagian keempat, konspirasi alam semesta yang berbicara. Bagaimana Suar dipertemukan dengan "Juang yang selama ini ia cari dan kagumi serta telah banyak menginspirasi," juga pada cinta sejati.
Secara keseluruhan, bukunya sangat sangat bagus. Keren malah. Juang, adalah laki-laki yang mengajak manusia-manusia di sekelilignnya untuk senantiasa menebar dan berbagi kebaikan untuk sesama dalam keadaan dan dalam bentuk apa pun. Mungkin saja, Juang adalah spesies manusia langka yang saat ini sudah sulit untuk ditemukan, tapi buku catatan bersampul merah miliknya yang diterbitkan, selalu mampu menebar kasih sayang.
Selasa, 25 Desember 2018
,
Judul Buku: Bumi Manusia
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: LENTERA DIPANTARA
Desain Sampul: Nadia
Editor: Astuti Ananta Toer
Cetakan 10: September 2005
Cetakan 11: Juni 2006
Cetakan 12: Desember 2006
Cetakan 13: Mei 2008
Cetakan 14: Juni 2009
Cetakan 15: Januari 2010
Cetakan 16: Oktober 2010
Cetakan 17: Januari 2011
ISBN: 979-97312-3-2
Rating: 5 Bintang
Roman Tetralogi Buru mengambil latar belakang dan cikal bakal nation Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya waktu kita dibalikkan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional mula-mula, juga pertautan raga, kegamangan jiwa, percintaan, dan pertarungan anonim para srikandi yang mengawal penyemaian bangunan nasional yang kemudian kelak melahirkan Indonesia modern.
Roman bagian pertama; Bumi Manusia, sebagai periode penyemaian dan kegelisahan dimana Minke sebagai aktor sekaligus kreator adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke-Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.
Pram menggambarkan sebuah adegan antara Minke dengan ayahnya yang sangat sentimentil: Aku mengangkat sembah sebagaiman biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di trmpatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmudan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu .... Sembah pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.
"Kita kalah Ma," bisikku.
"Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya."
****
Berkisah tentang Minke, pribumi asli bersuku Jawa yang menempuh pendidikan di HBS (Hogere Burgerschool) Surabaya. HBS adalah sekolah menengah umum pada zaman Hindia Belanda untuk orang Belanda, Eropa atau elit pribumi dengan bahasa pengantar Bahasa Belanda (credit: wikipedia).
Suatu hari, Minke, diajak oleh teman satu sekolahnya, Robert Suurhof untuk berkunjung ke rumah salah satu pengusaha terkenal di zaman itu, di kediaman Herman Mellema. Disana, ia berkenalan dengan Robert Mellema dan juga Annelies Mellema, putra dan putri Herman Mellema bersama gundiknya yang banyak dikenal dengan sebutan Nyai Ontosoroh. Dan kunjungan yang tak pernah Minke rencanakan itu membawanya pada peristiwa-peristiwa tak terduga.
Sebagai siswa HBS, citra Minke bisa dikatakan cukup baik, walaupun ia dikenal sebagai pribumi tanpa nama keluarga. Hanya saja, status Nyai Ontosoroh sebagai gundik orang Eropa, dan kunjungan-kunjungan lain yang menyusul setelah kunjungan pertama membuat hidupnya menjadi rumit.
Dalam buku ini, saya merasa seperti diajak untuk menengok kondisi masyarakat Hindia Belanda yang mengambil latar kota Surabaya di akhir abad ke-19. Dapat dilihat bawah kelahiran Indonesia modern terjadi di masa ini. Sebagai percontohan, Minke, laki-laki bersuku Jawa yang diperkenalkan pada pendidikan dan budaya Eropa, pengetahuan dan ilmu, hal yang membuatnya mulai berpikir dan bertindak kritis terhadap sekitar, terutama terhadap budaya peninggalan leluhur yang seolah mengekang seseorang untuk selalu tunduk dan sujud pada adab yang sudah diwariskan turun temurun. Dalam buku ini, Minke adalah pria Jawa dengan tingkat kecerdasan dan pola pikir orang Eropa.
Selain itu, buku ini juga memaparkan kondisi perlindungan dan penegakan hukum yang diaplikasikan di Hindia Belanda pada zaman itu. Orang-orang pribumi mungkin memang kelihatannya dilindungi haknya, terutama dari kepemimpinan raja-raja terdahulu, hanya saja hak-hak yang dilindungi itu tidak lebih tinggi kedudukannya dari kepentingan orang Eropa. Seperti pembagian warisan Herman Mellema setelah ia wafat, hak asuh terhadap anak yang diakuinya, hingga status Minke dan Annelies. Hal yang membuat saya miris dan membayangkan betapa 'kejamnya' hukum pada saat itu.
Buku ini juga memuat kisah romansa dengan Minke sebagai tokoh utamanya juga, roman yang menyedihkan. kisah yang menjadi penutup buku ini dan membuat saya penasaran setengah mati untuk membaca buku keduanya. Padahal, awal-awal membaca, saya sedikit merasa bahwa buku ini masuk kategori 'berat' tapi ternyata tidak, pelan-pelan malah saya terbiasa dengan gaya menulis Pram dan menikmatinya.
Senin, 24 Desember 2018
,
Penulis: Fiersa Besari
Penerbit: mediakita
Penyunting: Juliagar R. N.
Penyunting Akhir: Agus Wahadyo
Desainer Cover: Budi Setiawan
Penata Letak: Didit Sasono
Cetakan Pertama: 2017
Cetakan Ketiga: 2017
Tebal Buku: vi + 238 hlmn.; 13x19 cm
ISBN: 978-979-794-535-0
Rating: 5 Bintang
Seperti apakah warna cinta? Apakah
merah muda mewakili rekahannya,
ataukah kelabu mewakili pecahannya?
****
Juang Astrajingga, seorang pria dengan latar belakang hidup yang rumit, oleh semesta dipertemukan dengan Ana Tidae, wanita cerdas dengan kehidupan yang juga tidak sederhana. Pertemuan pertama mereka yang terjadi bak sebuah adegan dalam sinetron, membawa keduanya pada petualangan cinta yang mampu menjungkirbalikkan dunia mereka hampir tanpa aba-aba. Juang tidak bisa menolak pesona Ana, tidak bisa menyangkal rasa bahwa ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Sementara Ana, meski berkeras bahwa status mereka hanya teman semata, tidak bisa menghalau cinta yang selalu datang tanpa terencana. Masalahnya; Ana sudah ada yang punya, Deri namanya.
Petualangan cinta Juang yang pertama bersama Ana pun dimulai. Ia harus bertahan bersama gadis itu, terus mencintainya, dengan status yang tidak pernah diberi gelar pasti. Akankah Juang berhasil mengukuhkan Ana sebagai hanya miliknya seutuhnya?
****
Meski saya adalah salah satu dari sekian banyak followers Instagram maupun Twitter Bang Fiersa, jujur saja, Konspirasi Alam Semesta menjadi buku pertamanya yang saya baca. Awalnya, berpikir bahwa buku ini murni hanya membahas soal cinta antara Juang dan Ana yang terhalang orang ketiga, ternyata tidak. Buku ini memuat cerita yang kompleks namun tidak rumit untuk dipahami, menghanyutkan untuk diikuti, kadang membuat saya terbawa perasaan, terutama ketika membaca pesan-pesan Juang untuk Ana ketika ia berada di Papua, pesan-pesan yang sarat makna dan cerita. Bahwa betapa kepada Analah, Juang ingin membagi kepingan-kepingan perjalanan dalam hidupnya. Ini adalah bagian yang paling saya suka dari buku ini. Saya adalah tipe pencerita, kalau dibahasa sehari-harikan sebut saja "bawel" dan saya juga suka mendengarkan orang bercerita. Terutama tentang perjalanan hidup, hal-hal yang pernah dialami, kisah-kisah seru di masa lalu - terlebih itu dari orang yang saya cintai. Posisi Ana, sebagai satu-satunya wanita yang diceritai Juang saat ia berjuang di Timur Indonesia membuat buku ini makin istimewa - walau mungkin rasa istimewanya hanya saya saja yang merasakannya. Muatan puisi, lagu, pesan-pesan, surat, isi hati Juang maupun Ana menjadi pemanis yang begitu indah dan romantis bagi saya.
Selain tentang cinta, buku ini juga mengangkat isu kesenjangan sosial yang menurut saya pribadi, hingga saat ini masih menjadi problem nyata Indonesia yang masih kurang mendapat perhatian baik oleh pemerintahnya, maupun oleh masyarakat luas pada umumnya. Penulis mengangkat cerita tentang Papua, negeri yang kaya dengan hasil emasnya namun menjadi etnik paling miskin di tanahnya sendiri. Negeri yang seharusnya mampu membeli apa saja jika melihat keberadaan salah satu perusahaan industri terbesar di sana, namun untuk mendapatkan pendidikan yang memadai dan merata saja hampir tidak bisa. Buku ini tidak hanya akan memanjakan kita dengan kisah cinta yang mendebarkan, penuh bunga cinta, nggak cuma bikin baper-baper manja, tapi secara tersirat mengajak pembaca untuk membuka mata lebih lebar, pikiran lebih terbuka, untuk senantiasa bersyukur akan apa yang kita punya, untuk bersama-sama belajar menaruh perhatian pada saudara-saudara sebangsa kita.
Buku ini bisa dikatakan memiliki akhir bahagia, bisa juga dikatakan tidak. Kenapa begitu? Karena kalau dinilai dari sisi ceritanya, alurnya, kehidupan tokoh-tokoh di dalamnya, apa saja yang telah mereka lalui, lakukan lalu dapatkan, kisah Juang Astrajingga sebenarnya memiliki kahir bahagia. Tapi, kalau dinilai dari sisi ego pembaca seperti saya yang benci dengan duka di akhir cerita - bagaimana pun proses duka itu dihantarkan, buku ini sama sekali tidak memiliki akhir bahagia. Walau demikian, saya suka dan senang sudah membaca buku ini. Terima kasih untuk Bang Fiersa, yang sudah menyuguhkan karya sebaik ini bagi para pembaca Indonesia :)
Rabu, 26 September 2018
,
Judul Buku: City of Thieves - Kota Para Pencuri
Penulis: David Benioff
Penerbit: UFUK PRESS
Hak Terjemahan Bahasa Indonesia: PT. Ufuk Publishing House
Pewajah Sampul: Arie Hadianto
Tata Letak Isi: Ufukreatif Design
Penerjemah: Meda Satrio
Penyunting: Helena Theresia
Proofreader: Karla Karmila
Cetakan I: Agustus 2010
ISBN: 978-602-8801-32-4
Rating: 4 Bintang
Lev Beniov, seorang bujangan bertubuh kecil, cerdas, dan selalu gelisah, ditahan atas tuduhan penjarahan. Dia dijebloskan ke sel yang sama dengan Kolya, seorang prajurit tampan yang dituduh melarikan diri dari tugas. Alih-alih dieksekusi, Lev dan Kolya justru diberi tantangan untuk menyelamatkan diri. Syaratnya sungguh konyol, tapi taruhannya nyawa: mereka harus mengamankan selusin telur untuk seorang kolonel yang berkuasa.
Dalam menghadapi penderitaan yang tak terperikan, Lev dan Kolya menjawab tantangan itu di tengah-tengah kondisi Kota Leningrad yang tak kenal hukum. Apakah Lev dan Kolya berhasil menjalankan misinya? Akankah mereka bisa selamat dari ancaman eksekusi mati?
Ini novel yang inspiratif dan lucu, mendebarkan dan menakutkan. City of Thieves adalah sebuah petualangan yang menghanyutkan.
Dalam menghadapi penderitaan yang tak terperikan, Lev dan Kolya menjawab tantangan itu di tengah-tengah kondisi Kota Leningrad yang tak kenal hukum. Apakah Lev dan Kolya berhasil menjalankan misinya? Akankah mereka bisa selamat dari ancaman eksekusi mati?
Ini novel yang inspiratif dan lucu, mendebarkan dan menakutkan. City of Thieves adalah sebuah petualangan yang menghanyutkan.
****
Suatu malam, saat tengah berjaga bersama teman-teman seapartemennya di tengah perang yang masih berekcamuk dan Peter yang hampir porak poranda, Lev, seorang remaja berusia tiga belas tahun tidak sengaja melihat pasukan terjun payung milik Jerman jatuh di tengah kota. Tentara tersebut diperkirakan mati kedinginan. Tanpa pikir panjang, bersama Vika dan si kembar Antokolsky, Lev mengejar dan mengambil apa saja yang bisa berguna dari tubuh mati tentara tersebut. Penjarahan di tengah perang sudah menjadi hal umum, biasa dan banyak dilakukan. Apalagi jika itu menjarah barang milik NAZI, asal tidak ketahuan tentara Rusia. Sayangnya, malam itu, malam di mana seharusnya Vika yang tertangkap, dengan bodohnya Lev justru menyelamatkan sahabat seapartemennya itu dan mengumpankan dirinya untuk menggantikan Vika di tahanan. Dan menjadi tahanan, berarti siap menghadapi kematian.
Belum berselang lama ketika ia ditahan, Lev kedatangan teman satu sel. Pria tampan berstatus mahasiswa, yang juga merupakan anggota Pasukan Merah yang ditahan dengan tuduhan menjadi seorang desertir. Lev tidak menyukainya, meski sepertinya ia adalah orang yang ramah. Lelaki itu mengajak Lev bicara begitu petugas meninggalkan mereka berdua.
Entah harus bersyukur atau tidak, keesokan harinya, Lev dan Kolya tidak dieksekusi mati seperti yang banyak terjadi pada tahanan di masa perang. Mereka dipertemukan dengan Sang Kolonel yang memiliki seorang putri yang amat cantik. Sang putri akan menikah dan menuruti adat pernikahan Rusia, mereka ingin punya keik. Tapi, di tengah perang dengan badai salju dab banyaknya warga kelapran dimana-mana, mencari telur hampir bisa dikatakan sebagai misi mustahil. Dan, Lev juga Kolya mendapat kehormatan untuk menunaikan misi itu. Berbekal sepucuk surat perintah, berdua, mereka menjelajahi badai salju dan ancaman bertemu NAZI lalu mati kapan saja, demi satu lusin telur ayam.
Kalau dengar misinya, mungkin pembaca akan geleng-geleng kepala. Masa misinya mencari telur ayam? Tapi perjalanan Lev dan Kolya betul-betul perjalanan yang menegangkan dan mengasyikkan untuk diikuti. Lev, yang sejak awal bertemu sudah tidak menyukai sikap Kolya, harus bertahan dengan pemuda itu minimal sampai hari Kamis demi menunaikan misi tidak mungkin yang menggelikan. Tapi, berbeda dengan Lev, Kolya justru seperti menikmati perjalanan itu. Laki-laki itu tidak pernah mengeluh, selalu tersenyum, masih banyak bicara dan selalu membantu Lev tiap kali ia dalam kesusahan. Kolya bahkan menyelamatkan nyawa Lev saat ia hampir menjadi daging potong sepasang tukang jagal merangkap kanibal. Dan sifat juga karakter Kolya ini bener-bener bikin saya jatuh cinta. Ia tenang dan tidak terbebani bahkan meski nyawa mereka ada di ujung moncong senjata milik Jerman.
Buku ini mengambil setting tahun 1943 saat meletusnya Perang Dunia II yang terjadi antara Jerman dan Leningrad. Adolf Hitler menjadi tokoh yang sangat dikenal dalam perang ini walau memang sosoknya tidak dimunculkan Banyak kengerian perang yang diceritakan disini, beberapa membuat ngilu jika dibayangkan. Jangankan untuk sepotong baju bersih, sehelai roti untuk dimakan saja sudah merupakan harta yang tidak ternilai harganya. Sepatu boot dan topi menjadi rebutan demi menghalau dingin. Dinding-dinding kayu, perabot yang terbuat dari kayu, banyak yang dicopot untuk membuat kayu bakar. Tapi, petualangan Lev dan Kolya menjadi bagian yang akan selalu dinanti-nantikan.
Tapiii.... endingnya menyebalkan haha. Sebenarnya sih kalau menyadari sejak awal, udah bisa ditebak apa yang akan terjadi. Cuma karena saya terlalu penasaran sama telur satu lusinnya, saya jadi nggak sadar. Endingnya masuk akal, tapi nyebelin haha
Kalau dengar misinya, mungkin pembaca akan geleng-geleng kepala. Masa misinya mencari telur ayam? Tapi perjalanan Lev dan Kolya betul-betul perjalanan yang menegangkan dan mengasyikkan untuk diikuti. Lev, yang sejak awal bertemu sudah tidak menyukai sikap Kolya, harus bertahan dengan pemuda itu minimal sampai hari Kamis demi menunaikan misi tidak mungkin yang menggelikan. Tapi, berbeda dengan Lev, Kolya justru seperti menikmati perjalanan itu. Laki-laki itu tidak pernah mengeluh, selalu tersenyum, masih banyak bicara dan selalu membantu Lev tiap kali ia dalam kesusahan. Kolya bahkan menyelamatkan nyawa Lev saat ia hampir menjadi daging potong sepasang tukang jagal merangkap kanibal. Dan sifat juga karakter Kolya ini bener-bener bikin saya jatuh cinta. Ia tenang dan tidak terbebani bahkan meski nyawa mereka ada di ujung moncong senjata milik Jerman.
Buku ini mengambil setting tahun 1943 saat meletusnya Perang Dunia II yang terjadi antara Jerman dan Leningrad. Adolf Hitler menjadi tokoh yang sangat dikenal dalam perang ini walau memang sosoknya tidak dimunculkan Banyak kengerian perang yang diceritakan disini, beberapa membuat ngilu jika dibayangkan. Jangankan untuk sepotong baju bersih, sehelai roti untuk dimakan saja sudah merupakan harta yang tidak ternilai harganya. Sepatu boot dan topi menjadi rebutan demi menghalau dingin. Dinding-dinding kayu, perabot yang terbuat dari kayu, banyak yang dicopot untuk membuat kayu bakar. Tapi, petualangan Lev dan Kolya menjadi bagian yang akan selalu dinanti-nantikan.
Tapiii.... endingnya menyebalkan haha. Sebenarnya sih kalau menyadari sejak awal, udah bisa ditebak apa yang akan terjadi. Cuma karena saya terlalu penasaran sama telur satu lusinnya, saya jadi nggak sadar. Endingnya masuk akal, tapi nyebelin haha
Minggu, 16 September 2018
,
Penulis: Nico Macchi
Penerbit: Jendela O’Publishing House
Cetakan Pertama: 2016
Penyunting Naskah: Deasy Serviana
Penyelaras Aksara: Refa Annisa
Perancang Sampul: eSLC Project
Penata Letak: eSLC Project
Tebal Buku: viii+141 hlmn., 13x19 cm
Rating: 3 Bintang
Pustakawan itu pekerjaan mulia, kan?
Penjaga ilmu pengetahuan, pengelola jendela dunia.
Garda terdepan untuk meningkatkan minat baca anak bangsa.
Tak ada yang salah dengan menjadi pustakawan.
Kurang bergengsi? Penghasilan tak seberapa?
Hidup bukan hanya tentang status dan uang!
Tapi….
Kehidupan pascawisuda tidak semulus teori ideal di bangku kuliah.
Ada kebutuhan hidup di balik deretan buku-buku.
Ada tuntutan pertemanan dalam lingkaran sosial sesama pustakwan.
Dan ada ujian untuk memilih antara integritas profesi atau menyelamatkan orang yang disayangi.
Ketika berpegangan pada tali idealisme terasa semakin sulit, haruskah Helia melepasnya dan membiarkan diri terjatuh ke dalam jurang realitas?
****
Sebelum memulai review-nya saya mau curhat sedikit dulu. Jadi, beberapa waktu lalu cuti, family visit tiap lima bulan yang bisa dimanfaatkan buat liburan. Buat saya yang kuper ini, liburan berarti kencan dengan buku-buku yang sudah menumpuk di lemari. Hari pertama saya di rumah, buku ini menjadi pilihan sebagai pacar pertama saya. Maklum, masih banyak buku hadiah yang seharusnya dibikinkan review tapi belum sempat, udah mandek sekitar dua tahun lebih.
Buku ini adalah jenis buku yang baik lewat cover maupun blurb sangat eye catching. Sampul cokelat susunya yang manis, bikin buku ini nggak akan luput dari pandangan kalau dipajang di toko buku. Deretan buku-buku dan ilustrasi orang membaca di cover depan membuat pembaca bisa menebak bahwa buku ini akan membahas tentang hal yang berkaitan dengan buku. Blurb-nya juga bisa menjelaskan sedikit. Tapi, buku ini nggak hanya terbatas pada pembahasan tentang buku, hobi membaca dan manfaatnya dalam kehidupan kita. Buku ini lebih menekankan pada profesi yang terkait dengan dunia literasi dan storytelling; yakni Pustakawan dan Pendongeng.
Pustakawan adalah profesi yang kemungkinan besar belum banyak diketahui orang. Sering memang kita ketemu sama penjaga perpustakaan, tapi sejujurnya saya pribadi baru tahu bahwa kalau mau jadi pustakawan profesional itu nggak cuma asal aja. Ada sekolahnya, ada ilmu dan bidang keilmuannya tersendiri. Selanjutnya, Pendongeng. Membacakan dongeng adalah hal yang lumrah kita temui, terutama di kalangan orang tua. Kegiatan mendongeng adalah hal yang lazim dilakukan, sebagai teman tidur bagi anak-anak. Bercerita, sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia sejak zaman dulu. Baik itu berupa dongeng dari buku-buku yang pernah dibaca, ataupun dari legenda nenek moyang yang diwariskan turun temurun.
Menurut saya pribadi, ide untuk mempertemukan profesi pustakawan dan pendongeng itu amat brilian. Mengapa? Keduanya adalah profesi yang memiliki tujuan searah; meningkatkan minat baca anak bangsa. Dan ini yang bikin buku ini jadi menarik. Tapi, karena bukunya terlalu tipis, terkesan ringkas, bukunya jadi terasa kurang. Di bagian blurb memang membahas pustakawan, tapi, kehadiran Satriacarita yang mendominasi lembaran buku ini, sementara kisah Helia sebagai pustakawan yang hanya berupa bentuk ingatan atau flashback membuat porsi pustakawan jadi sedikit dibahas disini. Lebih banyak ke mendongeng, teknik mendongeng, dan cara untuk menjadi pendongeng yang baik. Sementara, penjabaran untuk apa saja tugas pustakawan, apa saja yang menjadi tanggung jawab seorang pustakawan jadi terasa samar dan kurang porsi. Saya sendiri sebenarnya tidak terganggu karena mendongeng adalah kegiatan favorit saya. Saya adalah anak yang dibentuk dan dididik lewat cerita-cerita. Meski nggak semahir pendongeng professional, orangtua saya gemar membacakan cerita sejak saya masih kecil. Jadi, ketika menemukan karakter Akhyar yang berprofesi sebagai pendongeng, rasanya asyik asyik saja. Cuma, karena titik berat disini yang dibahas adalah Pustakawan, porsinya yang kurang bikin bukunya berasa timpang walau memang masih menarik untuk terus dibaca.
Pustakawan adalah profesi yang mulia. Dan, akan lebih menarik lagi kalau pembahasan tentangnya bisa lebih diperdalam. Selain membahas profesi, karena buku ini berbentuk novel, kita juga akan menemukan bumbu kisah cintanya. Kisah yang manis dan nggak neko neko kalau menurutku. Cukup sukses untuk bikin saya baper maksimal dan gregetan tengah malam saking gemas bacanya.
Ada satu kutipan yang sangat saya suka dari buku ini;
“Satriacita terbentuk karena adanya orang-orang dewasa yang khawatir pada anak-anak sekarang, khususnya anak-anak usia dini. Globalisasi telah mencekoki mereka dengan asupan-asupan yang tidak tepat; kartun penuh kekerasan, lagu cinta-cintaan, sinetron yang tidak mendidik. Belum lagi perkembangan teknologi yang begitu pesat.”
“Anak-anak usia dini perlu mengembangkan kemampuan motorik, berbahasa, social, kognitif, berimajinasi, juga menumbuhkan nilai-nilai moral. Untuk bisa mengembangkan semuanya secara positif, tentu diperlukan asupan yang positif pula. Sementara teknologi dan hiburan-hiburan buruk yang saya sebut tadi, selain tidak menunjang seluruh aspek perkembangan itu, juga menanamkan bibit-bibit negatif. Akibatnya, anak akan tumbuh dengan perkembangan yang kurang sempurna. Timpang, tidak matang. Dan itu bisa berbuntut fatal pada masa remaja dan dewasanya.”
“Cerita terbukti memiliki banyak manfaat dalam perkembangan anak, terutama untuk kemampuan berbahasa, berimajinasi dan menumbuhkan nilai-nilai moral."
Saya sangat setuju dengan kutipan di atas ini. Tentu saja tidak semua yang diberikan teknologi dan televisi ataupun media hiburan lain berdampak negatif, namun buku ini mengajak pembaca untuk melakukan pendampingan terutama kepada anak-anak agar bisa menyaring apa yang mereka terima dari luar dengan bijaksana. Buku ini sangat saya rekomendasikan bagi seluruh pembaca Indonesia.
Selasa, 17 Juli 2018
,
Judul Buku: Matahari
Penulis: Tere Liye
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Juli, 2016
Cover Oleh: Orkha Creative
Tebal Buku: 400 hlmn; 20 cm
ISBN 978-602-03-3211-6
Rating: 4 Bintang
Namanya Ali, 15 tahun, kelas X. Jika saja orangtuanya mengizinkan, seharusnya dia sudah duduk di tingkat akhir ilmu fisika program doktor di universitas ternama. Ali tidak menyukai sekolahnya, guru-gurunya, teman-teman sekelasnya. Semua membosankan baginya.
Tapi sejak dia mengetahui ada yang aneh pada diriku dan Seli, teman sekelasnya, hidupnya yang membosankan berubah seru. Aku bisa menghilang, dan Seli bisa mengeluarkan petir.
Ali sendiri punya rahasia kecil. Dia bisa berubah menjadi beruang raksasa. Kami bertiga kemudian bertualang ke tempat-tempat menakjubkan.
Namanya Ali. Dia tahu sejak dulu dunia ini tidak sesederhana yang dilihat orang. Dan di atas segalanya, dia akhirnya tahu persahabatan adalah hal yang paling utama.
****
Begitu menyelesaikan petualangan di Klan Matahari, Raib, Ali, dan Seli pun kembali ke Bumi. Namun, berbeda dengan Raib dan Seli yang bisa menikmati hari-hari mereka sebagai siswa biasa kembali, Ali justru menyimpan rasa penasaran dan keinginan kuat untuk menemukan Klan Bintang, negeri paralel lainnya yang sudah sejak lama tidak didengar kabarnya.
Berbekal kecerdasan dan kemampuannya, Ali pun melakukan penelitian dan menemukan titik terang di mana Klan Bintang berada. Menurut hipotesa Ali, Klan Bintang berada di perut bumi. Untuk itu, ia menciptakan kapsul terbang canggih yang dapat mereka; Ali, Seli dan Raib gunakan untuk menyusuri lorong-lorong kuno demi mencapai Klan Bintang.
Dugaan Ali benar. Mereka memang berhasil menemukan Klan Bintang dengan kemajuan teknologi yang teramat canggih. Namun, keadaan di sana tidak seperti yang diharapkan. Bukan hanya berpetualang demi memenuhi rasa ingin tahu, mereka justru diserang tentaran Pasukan Bintang dan dikurung di penjara kota Zaramaraz. Pemilik kekuatan tidak disambut dengan baik, bahkan dilarang di Klan Bintang.
Ini adalah buku ketiga dari seri Bumi. Setelah membaca buku pertamanya Bumi dan buku keduanya Bulan, rasanya emang nggak akan lengkap kalau nggak baca buku ini. Petualangan tiga remaja tanggung; Seli, Raib dan Ali adalah hal menarik untuk diikuti. Menurut saya pribadi, buku ini memiliki petualangan paling seru. Alasannya, tantangan yang harus dilewati Raib, Ali dan Seli agak sedikit berbeda dari tantangan yang ada pada buku-buku sebelumnya. Jika sebelumnya mereka dihadapkan pada kekuatan dan serangan-serangan dari para pemilik kekuatan, di Klan Bintang, kekuatan mereka justru bertarung melawan teknologi yang sudah amat maju. Di Klan Bintang, pukulan berdentum Raib seolah tidak berguna. Listrik milik Seli bisa dengan mudah dilumpuhkan, tameng transparan bisa ditembus tanpa kesulitan. Dan juga, kehadiran mereka tidak diinginkan di sana.
Para pemilik kekuatan di Klan Bintang sebagian besar mendekam di penjara kota Zaramaraz. Mereka tidak diizinkan untuk menggunakan kekuatan apa pun, dalam skala sekecila apa pun. Kekuatan adalah terlarang. Peraturan dijalankan secara semena-mena, sesuai keinginan Sekretaris Dewan Kota, tanpa bisa dibantah. Poin yang membuat buku ini jadi makin seru. Apalagi, usaha-usaha yang harus digunakan Ali, Seli dan Raib demi bisa kembali ke Bumi. Agak sedikit berbeda feel-nya. Dan, saya suka. Setelah baca buku ini, dijamin, pasti penasaran baca seri keempatnya; Bintang.

















